Tak Ada Yang Salah Membeli Barang di Warung

HomeKisah Mbah Radi

Tak Ada Yang Salah Membeli Barang di Warung

Suatu ketika saya membutuhkan cantelan pakaian untuk kamar dan kamar mandi. Kala itu saya berada disebuah supermarket besar di daerah saya, disana le

Secuil Kisah Di Gerimis Senja Hari
Dunia Kita dan Dunia Mereka
Jangan Menunggu Membahagiakan Mereka

Suatu ketika saya membutuhkan cantelan pakaian untuk kamar dan kamar mandi. Kala itu saya berada disebuah supermarket besar di daerah saya, disana lengkap tersedia beberapa macam cantelan, bahkan juga tersedia tempat sampah yang waktu itu juga saya butuhkan. Sempat berkeliling, saya memutuskan untuk tidak membelinya. Saya teringat ada sebuah toko kelontong dekat kantor saya dan saya memutuskan untuk mencoba membelinya disana.

Berkendara menyusuri jalanan yang masih terhitung lenggang, saya sendiri tidak merasa yakin apakah barang yang saya cari ada di warung tersebut. Namun niat ini sudah membulat, walau ragu mulai menggerogoti. Sampailah di warung yang saya tuju, sayapun tidak langsung berhenti namun saya berkendara pelan melihat dari kejauhan apakah barang yang saya tuju ada disana. Saya berhenti, saya putar kendaraan saya dan berhenti di depan warung tersebut.

Dari jalan tampak ada seorang bapak setengah baya duduk di dekat warung, menanti pembeli yang waktu itu terlihat tak ada orang lain selain saya. Saya dan mendekat dan menyampaikan bahwa saya mencari cantelan baju, dengan sigap dan ramah bapak tersebut bergegas masuk warungnya.

Kaki ini melangkah mengikuti jejak bapak muda tersebut hingga terhenti melihat sebuah kasur dengan tumpukan mainan di tengah warung tersebut. Dengan ragu kaki ini perlahan menapak, dan benar, ada seorang ibu muda yang sedang menyuapi anaknya yang masih kecil, anak kecil seumuran anak TK. Seakan memahami langkahku yang terhenti, ibu muda tersebut kemudian mempersilahkanku untuk masuk.

Di dalam, sang bapak menawari dua jenis cantelan, satu seharga 3000 rupiah sedangkan satunya seharga 12.000 rupiah. Terpancar rasa senang ada pembeli yang mampir, hingga bapak tersebut mempersilahkan untuk memilih sendiri.

Terkadang kita melupakan, bahwa ada banyak saudara-saudara kita yang mengadu nasib untuk orang yang mereka kasihi. Berharap dapat melihat senyum mereka.

Atau mungkin kita tak mau tahu dan tak pernah mau peduli. Betapa perjuangan mereka mengalahkan dunia yang semakin menghimpit mereka.

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0